Tahun 2019, Sudah Saatnya Go Online

Bismillahirrahmanirrahim..

Dunia kini telah memasuk era digital. Ketika semua lini menjadi serba digital dan lebih praktis, lalu menjadi lebih pintar dari yang terkira. Perkembangan teknologi ini telah mendisrupsi (red: menguasai) hampir semua lini. dan Siapa yang akan menyangka jika jasa angkutan seperti ojek bisa naik kelas seperti saat ini dan menjadi titik kembang bagi sejumlah layanan jasa angkutan lainnya? Dulunya untuk berjualan makanan dan baju, harus punya warung makan, restoran, dan toko. Kini cukup bermodalkan foto dan gambar, tawaran berbagai menu atau produk bisa dengan segera sampai ke mata konsumen hanya bermodalkan smartphone dam kuota internet saja.
Ilustrasi (image source from Pixabay) 
Sejatinya dunia digital telah mendistrupsi pola belanja dan pola berfikir orang-orang yang mau mengikuti perkembangan Revolusi Zaman yang sudah berubah drastis dengan sangat cepat. Seperti yang sedang Pemerintah Indonesia canangkan untuk lebih gencar mensosialisasikan Industri 4.0, yang faktanya hanya 5% penduduk Indonesia yang sadar dan paham akan potensi Industri 4.0. Semua aktifitas kini bisa dilakukan dengan hanya dengan gerakan sentuhan jari. 

Barang belanjaan akan diantar alamat rumah dengan bantuan kurir ekspedisi pengiriman, dan bahkan ada layanan dari beberapa Marketplace yang mengantar barang hingga ke depan pintu. Apa yang tidak bisa kita cari sekarang ini dengan pemanfaatan teknologi digital? Semua sudah tersedia dan bahkan 80% gratis, hanya aja ketidak-mauan untuk belajar dan sikap tidak perduli yang membuat pertumbuhan Industri 4.0 di Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara berkembang lainnya. Miris!!

Faktanya, negara kita Indonesia punya kekuatan demografi yang sangat menggiurkan bahkan sangat potensial bagi pemodal. Kita punya 264 juta penduduk pada tahun 2017 dan akan terus tumbuh. Ini modal pasar yang sangat kuat, namun sayang hanya 5% penduduk usia produktif yang sadar dan sudah berjalan di Industri 4.0 ini.

Maka saya pribadi, tidak heran lagi jika Tokopedia baru saja mendapati suntikan dana segar sebesar US$1,1 miliar atau setara Rp 15,95 triliun dari berbagai konsorsium pendanaan luar negari. Alibaba Group menjadi salah satunya, yang melirik Indonesia sebagai pasar yang sangat menjanjikan. 

Tokopedia, adalah salah satu dari empat unicorn asli Indonesia yang mampu membuktikan eksistensi dan kekuatan Indonesia dalam pemanfaatan teknologi digital. Tiga lainnya adalah Bukalapak, Traveloka dan Gojek. Sekedar informasi dari saya, dalam industri 4.0 yang ada di dunia, hanya ada 250 startup yang mendapat predikat Unicorn. Predikat itu didapat apabila startup tersebut sudah memiliki Valuasi atau Nilai Perusahaan senilai US $ 1 Milyar atau setara 14,5 Triliun Rupiah (jika kurs US dollar 14.500). 

Startup yang sudah mendapatkan predikat unicorn, di berbagai bidang banyak startup yang berhasil memanfaatkan dunia digital dan mampu memberi ruang kerja bagi banyak orang. Dan kebanyakan dari pengagas itu adalah anak muda yang masih dalam kategori usia produktif. 

Tak melulu startup, banyak anak muda memberi bukti bahwa menghabiskan waktu di platform Facebook, Twitter, Instagram, Youtube dan berbagai media sosial adalah sumber penghasilan. Bisa kita lihat sendiri sudah banyak jutawan-jutawan baru di Indonesia yang mampu menghasilkan dari Industri 4.0 ini, melalui passion dan hobi mereka untuk menjadi content creator di sosial media. 

Kunci dari keberhasilan pemanfaatan teknologi digital atau industri 4.0 itu sendiri merupakan ketekunan dan komitmen si creator sendiri. Ini yang sering diabaikan oleh anak muda. Banyak anak muda bermimpi menciptakan produk digital yang menghasilkan, tetapi mimpi mereka terlalu rumit. Padahal semua skill dan kemampuan yang dimiliki bisa menghasilkan uang di Internet, tinggal mencari tahu bagaimana dan harus mulai dari mana.
Keempat unicorn yang saya sebutkan di atas itu berhasil, karena menciptakan platform sederhana yang memudahkan pengguna memenuhi kebutuhannya, dan karena merasa nyaman, pengguna menjadi konsumen yang loyal bahkan tak segan untuk merekomendasikan ke orang lain agar merasakan manfaat dan kehadiran mereka.

Alhamdulillah, di negara kita sudah ada Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf) yang terbentuk pada tahun 2015. dan Badan Ekonomi Kreatif telah rutin menyelenggarakan berbagai macam kegiatan-kegiatan yang gencar mensosialisasikan Industri 4.0 dan banyak mengundang anak muda untuk melihat prospek dunia digital ke depan. Namun sayang, kegiatan, seminar, atau workshop yang di adakan BeKraf hanya di kota-kota besar. 

Semestinya ini menjadi lecutan bagi anak muda di kota-kota kecil untuk bergerak mengejar ilmu, sesuai perintah dan tuntunan yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW : "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina". Sehingga kita bisa menyambut baik misi dari Pemerintah kita dalam mensosialisasikan Revolusi Industri 4.0 ini, masyarakat Indonesia tidak hanya sekedar menjadi pengguna tetapi harus menjadi pemain bahkan pelopor dalam dunia industri 4.0.

Pengalaman saya, saat jalan-jalan ataupun ada urusan keluar kota. Adakalanya saya bingung harus kemana untuk sekedar ngopi-ngopi di kota tujuan saya, saya sering berputar-putar dulu mencari tempat ngopi yang asik yang sesuai dengan kebutuhan saya saat itu. Saya membayangkan jika saja ada satu manusia kreatif yang mau mereview atau mengenalkan warung kopi atau cafe yang ada di kota mereka, tentu saya tidak akan berputar-putar dan  buang-buang waktu hanya untuk mencari tempat ngopi yang asik sesuai kriteria saya. 

Itu cuma satu peluang yang bisa dikerjakan oleh anak muda dengan memanfaatkan teknologi digital yang sudah semakin smart ini. Berbagai platform pembuatan aplikasi malah tidak menuntut kita memahami coding yang rumit. Dimana-mana tersedia software yang cukup drag and drop (geser dan letakkan), dan jadilah satu aplikasi digital. Silahkan browsing untuk mencari lebih lanjut mengenai pembahasan ini :) 

Pintu gerbang tahun 2019 sudah terbuka. Teknologi semakin berkembang dan akan semakin maju. Setidaknya ada tiga hal terkait teknologi digital yang akan membuat kehidupan manusia semakin terbantukan dan lebih baik lagi.

Pertama, semuanya akan menjadi lebih cerdas. Perangkat dan sistem akan berinteraksi lebih cerdas dengan manusia. Google Assistant telah membuktikan hal ini. Kecerdasan perangkat dan sistem akan sangat membantu manusia dalam manajemen waktu dan mengefisienkan segalanya.

Kedua, teknologi untuk kebaikan semakin membuat hidup lebih bahagia dan sehat. Diantaranya adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT) dan teknologi AV/VR untuk berbagai sektor terutama di bidang kesehatan dan pendidikan.

Ketiga augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) kini bukan lagi sekedar permainan yang menyenangkan. Dengan kemampuan konektivitas 5G, segala hal bisa dihadirkan didepan mata serealistis mungkin. Ini sangat membantu dunia pendidikan dan masyarakat desa. Studi tour bisa dilakukan dengan lebih murah.

Perkembangan teknologi ini tentu harus disambut dengan kesiapan kita, terutama anak muda dalam memanfaatkannya sebagai sebuah peluang. Bermain-mainlah dengan dunia digital, karena bermain itu menyenangkan. Tetapi hasilkan pula sesuatu dari aktifitas bermain itu, agar kita tidak dilibas dan hanya menjadi pengguna semata.

Selamat Tahun Baru 2019

NB: 
Tulisan ini saya tulis karena terinspirasi oleh Buku yang berjudul "The Great Shifting" karya Prof. Reynald Khasali (Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia).

0 Response to "Tahun 2019, Sudah Saatnya Go Online"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel