Ketika Hati Merasa Semakin Lelah Untuk Mencari Jodoh

Bagaimana rasanya masih melajang di usia yang hampir kepala tiga?, dan apakah mereka pernah berfikir ataupun merasakan Ketika Hati Merasa Semakin Lelah Untuk Mencari sosok yang telah diciptakan dari tulang rusuk kiri ku. Apa rasanya hati ini, ketika usia sudah tidak lagi muda untuk terus mencari sosok tersebut. 

Rasanya itu seperti Permen Nano-Nano!! Jika masa kecil kalian bahagia, pasti tau bagaimana rasa permen itu. Ya, pahit, asam, asin, dan manis. Seperti itu lah rasanya :( Ketika semua rasa itu berhasil terkumpul menjadi satu didalam hati dan perasaan ini.
ipank, Ipank blog, Ipank Al-Hakim, ipankright, Syaifan Noor Hakim,
Tak jarang terbesit dalam hati, ketika diri ini mencoba mendekati seseorang yang masuk kriteria ku untuk menjalin satu hubungan yang benar-benar serius. Selalu terbesit dalam hati, sebuah pertanyaan yang mendasar "Aku harus bagaimana lagi?" Saat hati sudah mulai terbuka sedikit demi sedikit, namun ada satu perasaan yang muncul ketika orang yang saya dekati itu menunjukkan sikap yang menurut saya sudah tak lagi sama saat pertama saling mengenal satu sama lain. 

Mungkin ada sebagian teman, sahabat, kerabat, dan keluarga yang melihatku begitu masa bodoh dengan status yang masih juga melajang di usia yang hampir 30 tahun. Mereka mengira aku begitu menikmati karir dari pekerjaan sebagai profesional yang telah lama saya jalani hingga tak terpikir soal menikah dan berumah tangga. Sebagian lainnya, menyimpulkan bahwa aku terus-menerus memikirkan jodoh. Meraka melihat itu semua dari postingan atau status di sosial media ku, tulisan-tulisan ku, dan tema pembahasanku tak jauh-jauh dari perkara jodoh.

Lalu sebenarnya aku yang mana?

Faktanya, aku memang berada di tengah-tengah dugaan mereka. Bagi seorang laki-laki normal dan memiliki perhitungan sepertiku, belum menikah di usia dua delapan saja sudah cukup mendebar-debarkan jantung. Apalagi ini, yang beberapa bulan lagi sudah genap kepala tiga? 

Lima hingga tujuh tahun yang lalu, mungkin aku masih bisa santai dan rileks melihat kawan-kawan sekolahku menggendong bayinya. Tapi kini, ketika aku mulai sadar bahwa putera-puteri mereka sudah berseragam merah putih, apa kau pikir yang kurasakan masih sama saat usia ini masih 25 tahun? Kupastikan... Tidak. Rasanya sudah sangat jauh berbeda, dan tidak jarang aku selalu merasa risau dan merasa dihantui oleh tuntutan yang mengharuskan saya untuk segera menikah :(
Sudah sering diri ini dicap terlalu pemilih, sudah jadi lahapan empuk bagi laki-laki sepertiku. dan bahkan telinga ini, sudah kebal akan kalimat-kalimat seperti itu atau kalimat sejenisnya. 

Belum lagi diri ini diberi embel-embel laki-laki yang terlalu jual mahal. Padahal besar kemungkinan, kalau mereka tahu bahwa ikhtiarku dan para laki-laki seusiaku ini sudah seperti apa. Labelnya jual mahalnya pun akan berganti, "Nggak laku." "Laki-laki kok nyari jodoh sampe segitunya?" Ya, serba salah. Karena mereka tidak merasakan dan bahkan tidak berada di posisiku. 

Namun faktanya, biasanya yang mudah menyimpulkan begini mereka yang kurang empatinya, dan takdirnya Allah sang Maha Cinta mudahkan jodohnya, keturunannya, rezekinya. Tapi kalau yang besar empatinya dan punya pengalaman serupa seperti yang saya rasakan, saya yakin sekali, mereka tahu dan akan paham bagaimana rasanya. Dan takkan sampai hati meninggalkan komentar-komentar pedih bahkan sindiran-sindiran yang menyakitkan baik itu secara langsung maupun di media sosial mereka. 

Tak sedikit pula teman dan kerabat yang berusaha mengenalkan, tapi hatiku hancur, bahkan sungguh hingga hati seakan-akan dibuatnya hancur berkeping-keping seperti cermin yang dihempaskan le lantai, saat mengetahui perempuan yang ditawarkan sungguh 'tak sesuai' dengan harapan dan ekspektasi ku :( 

TUH KAN! EMANG DASAR PEMILIH!!

Saat kutanya., 
"Kenapa mau menjodohkanku dengan dia?" 
"Ya, kupikir kalian sama-sama single dan sedang mencari jodoh. Siapa tahu cocok!"
Deg!

Sebegitu sederhananya kah pernikahan menurut kalian, yang dalam Al-Qur'an 4 : 21 pun disebut sebagai 'Miitsaqon Gholizo' (perjanjian yang kukuh) yang kesakralannya disetarakan dengan sumpah para nabi-nabi, tapi di mata orang-orang ini pengertian malah disepelekan dan bahkan tidak pernah tau tentang Firman Allah yang ada di ayat tersebut? Ujian seorang pria lajang belum selesai sampai di sini. Kamu pun terancam dijuluki sebagai Senior (Senang Istri Orang), karena lebih banyak didekati oleh istri orang. Catat, 'didekati'. Bukan sengaja mendekati.

Asstaghfirullah...

Jangankan istri orang. Tahu seorang perempuan sudah punya pacar aja, walaupun status pacar itu nggak diakui sama agama dan negara, bagiku semacam sudah dikasih tag "Punya orang, bukan takdir kamu jangan ganggu!!" 
Dan saat itu pun, langsung auto-jaga jarak. Apalagi kepikiran ngegodain untuk berharap lebih, Na'udzubillahimindzalik! 

Sungguh, masih melajang di usia tak belia lagi adalah salah satu ujian terberat bagi seorang laki-laki normal yang memahami bahwa menikah adalah ibadah dan penyempurnaan separuh agama. Menikah adalah salah satu cara paling ampuh menutup pintu-pintu fitnah, dan benteng utama dalam memerangi zina. 

Maka yang dibutuhkan dari orang-orang seperti saya, yang sedang di posisi ini dan segera ingin cepat-cepat menikah adalah doa, dukungan dan pengertian dari orang-orang terdekat. Doa agar saya dan laki-laki yang bernasib sama diberikan jodoh terbaik dari Allah SWT sang pemilik alam semesta ini. 

Dukungan agar tetap mempertahankan iman dan prinsipnya, karena di luar sana tidak sedikit laki-laki yang menggadaikan keimannya hanya demi seorang perempuan yang dicintainya.

Serta pengertian, bahwa jodoh adalah salah satu tanda Kebesaran Allah SWT. Jodoh didatangkan lebih cepat bagi sebagian. Dan dihadirkan lebih lambat bagi sebagian yang lain. Semuanya hak penuh dari sang Ar-Rahhim. Bahkan jika Allah sudah berkehendak, ketika jodoh seorang hamba hanya akan ditemui di Akhirat kelak :( 

Sungguh hal-hal semacam itu, hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang memiliki empati yang tinggi. dan akan tetap memberikan semangat apabila sudah mengerti ilmunya, dan memiliki nasib yang sama. 

Duhai Saudara-Saudari ku, yang masih melajang hingga saat ini demi menjaga kesucian diri dan Agama. Bersabarlah, dan teruslah berprasangka baik kepada Allah. Jangan pernah memutuskan menikah hanya untuk menutup mulut-mulut yang tak mengerti keadaan kita. Jika memang dia yang hadir belum membuatmu mantap, jangan paksakan dirimu untuk menerimanya. Pernikahan bukan urusan sehari-dua hari, yang jika kau tak cocok, kita bisa menggantinya kapan saja. 

Sudah lama menanti dan terus menanti, tentu kau tak mau akhir penantianmu justru berakhir pada pilihan yang salah, kan? Lalu, mintalah Allah memberika Keridhoan-Nya atas hatimu terhadap apa yang Dia kehendaki baik bagimu dan hidup mu. Jika mungkin yang datang belum menarik bagimu, coba renungkan semuanya baik-baik. Libatkan Allah yang memiliki kuasa untuk membolak-balikan hati seseorang manusia untuk mengambil keputusan. Turunkan egomu. Eliminasi kriteria-kriteria sekundermu tentang calon makmum dan imam mu. Hingga yang tersisa tinggal dia baik Hablumminallah dan hablumminannas-nya, bertanggung jawab dan orangtuamu ridho kau dengan pilihan mu. 

Mohon pada Allah SWT, agar aku dan kamu diberikan kelapangan hati untuk menerima semua Ketentuan dan Ketetapan-Nya. Sebab kadang kala kita terlalu sibuk merapal doa agar Allah mengubah hati orang lain. Lalu kita lupa bahwa mungkin yang harusnya Allah ubah adalah hati kita. 

Tapi jika yang datang dan menghampiri semisal Zulaikha, jangan kau paksakan diri untuk menerimanya. Sebab kau belum tentu seteguh dan sehebat Yusuf AS dalam menghadapi seorang Zulaikha. 

Terima kasih untuk setiap teman, sahabat, dam kerabat yang sudah mau mendoakan, mendukung, dan mengerti kondisi para lelaki yang sedang berada di posisi ini. Sungguh tiga hal di atas sudah lebih dari cukup.

* End 

Friday, January 11th 2019. 10: 00 PM 


0 Response to "Ketika Hati Merasa Semakin Lelah Untuk Mencari Jodoh"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel